#31 a Journey from a Women to a Wife and a Mother

Ketika hati terus menerus mencari, kelak ia akan menemukan kebenaran. Ketika hati yang fitrahnya menjadi baik terus berpetualang, maka bertemu dengan kemaksiatan di tengah jalan pun, insya Allah ia akan kembali kepada kebaikan dengan izin dan kehendak Allah.

Fitrah seorang wanita adalah menyayangi dan mencintai keluarganya. Sesulit apapun beban berat yang dihadapi di masa kecil, pengalaman pahit yang terukir dalam alam bawah sadar, kesedihan bertumpuk yang tertimbun karena tumpukan memori tidak bahagia, sejatinya setiap wanita diciptakan Allah dengan kelembutan hati, begitupun. Dengan kelembutan lisan, kecuali bagi wanita beriman yang menjaga diri dan perkataannya agar tidak menimbulkan keinginan pada orang yang berpenyakit hatinya.

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِيَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik .

Qur’an Surah Al Ahzab:32

Suami dan anak-anak adalah tempat bagi wanita mencurahkan kasih sayang yang utama, bahkan orangtua pun menempati posisi sesudahnya.

Dalam perjalanan mencari jati diri, menemukan misi spesifiknya bagi keluarga dan memberikan kebermanfaatan pada sekitar, sebagian besar wanita memilih tidak berhenti belajar meskipun telah disibukkan dengan urusan rumah tangga.

Bagiku, perjalanan untuk belajar itu tidak pernah berhenti. Perjalanan mencari tau apa yang mampu menyenangkan hati suami dan anak-anak. Perjalanan menjadi istri dan ibu yang mampu menemani mereka di saat susah maupun senang. Kebersamaan di saat susah itu mudah, justru lebih sulit ketika membersamai ketika senang. Karena tabiat manusia suka berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang disayanginya saja.

Perjalanan menjadi seorang istri baru kumulai. Meski mungkin cukup terlambat memulai, ketika waktu untuk menjadi istri Sholihah penyejuk hati suami itu justru hampir hilang. Ketika waktu untuk mengabdi itu hampir saja usai. Ketika kebersamaan sudah mencapai batas menuju perpisahan.

6 tahun bukan waktu singkat mengenal suami luar dan dalam. Banyak keburukan yang ingin kubuang jauh-jauh. Banyak aib yang tidak ingin kuakui. Di mata orang yang jatuh cinta, segala keburukan tetaplah menjadi indah, meskipun sering kali menyakitkan.
Bagiku, terbangun pagi ini, masih tetap sama dengan ketika terbangun di pagi 6tahun lalu. Yang membuatnya berbeda adalah, bahwa setiap aku terbangun, ingatan akan keburukan dan aib suami menjadi cambuk bagiku untuk terus belajar menjadi baik.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

Qur’an Surah An Nisa: 26

Aku masih yakin, setiap wanita yang baik akan dipasangkan dengan laki-laki yang baik. Begitupun setiap kali aku menemukan keburukan dan aib suami, semakin menguatkan rasa syukurku.

Aku mencintai manusia dan aku pun juga mempunyai aib dan keburukan yang kurang lebih sama. Aku tidak lebih baik dari suamiku. Tapi rasa mencintai suami, justru semakin membesar setiap harinya.

Anak-anak kami pun, tetaplah manusia, dengan segala fitrah kebaikan dan keburukan yang ada. Bagaimana ketika kepolosan kebaikan hati mereka bisa terus dipupuk menjadi ketulusan, yang terpancar dari sikap, perkataan dan hati mereka.

Perjalananku menjadi ibu masih terlalu panjang. Masih banyak perbaikan yang perlu kulakukan. Masih banyak momen pembentukan dan penguatan fitrah kebaikan yang harus dicontohkan pada mereka. Meskipun sebenarnya, fitrah kebaikan ku meredup oleh waktu, tapi fitrah kebaikan anak-anak justru memberikan pelajaran hidup buatku.

Aku, sedang belajar menjadi istri dan ibu, belajar pada setiap orang yang kutemui. Tidak selalu belajar pada wanita-wanita bersuami, namun juga bisa belajar pada wanita-wanita yang sudah tidak lagi bersuami, atau bahkan wanita-wanita yang belum bersuami.

Setiap kebaikan yang kita dengar, selayaknya jangan melihat pada siapa yang mengucapkan, tapi melihat pada kebaikan dan kemanfaatan atas apa yang disampaikan, tidak perlu lagi melihat dahulunya dia seburuk dan sehina apa di mata manusia.
Setiap manusia memiliki fitrah kebaikan, dan biarlah hanya kebaikan-kebaikan itu saja yang kita terima dari orang lain.

Aku, sedang dalam perjalanan panjang menjadi seorang istri dan ibu, dimana surga adalah puncak kenikmatan akhir yang kutuju. 🙂

Iklan

kasih umpan balikmu dimari yah, sob!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s