#8 Omset Macet…??!!!

Posted: 9 Februari 2012 in Financial Quotient

Ketika dikatakan berdagang membuka 99 pintu rizqi Allah, saya tidak sepenuhnya percaya selama saya berdagang di Ende. Serius?!!

100 persen serius, kawan.

Tipe penduduk Ende yang selalu berhutang ketika mengambil barang sudah menjadi bukti tegas. Ya, tulisan kali in sedikit curahan hati sebenanrnya😀

Omset saya yang tertahan di pembeli adalah sekitar 1,3 juta rupiah, ini berbentuk berbagai macam barang. Dan memang, paling cepat uangnya dikembalikan satu bulan, alias bulan depan dari hari pengambilan barang. Iya!!! barangnya diambil tanpa DP sedikit pun, dan tentunya saya dengan innocentnya tidak meminta DP sedikitpun😦

Pengalaman buruk tentunya, ini berdagang dengan ibu-ibu lho, dan memang intensitas bertemunya bisa dua kali dalam sepekan, tapi tetap saja paling cepat omset itu kembali ke tangan saya satu bulan kemudian. bayangkan??

Dari pengalaman ini saya punya dua titik kerugian. Pertama, ketika uang saya sendat, bahkan ketika saya kehabisan uang untuk makan di suatu hari padahal masih di minggu kedua awal bulan, saya dan suami sampai harus ‘pelit’ gizi makanan. Sedih ya? Kedua, ternyata ketika saya mengambil laba kecil dan dagangan saya baru dibayar paling cepat 1 bulan kemudian (malah ada yang sudah berlalu 3 bulan lebih belum dibayar juga, oalaaaah…), apa yang dapat tidak sebanding dengan inflasi yang terjadi, yah karna laba kecil itu, ditambah pada ngutang, akhirnya jadilah semakin terseok-seok keuangan pribadi saya.

Pengalaman berharga dan ini tidak ingin terulang lagi, yah tentu saja, di saat hamil 7,5 bulan, kebutuhan makan super besar, ternyata harus irit makan, bahkan di satu hari saya dan suami sempat bingung mau makan apa, yang tersisa hanya 3 butir telur dan beras ‘jatah sumbangan rakyat’–baca:beras pembagian PNS–. padahal belum tanggal 10 lho, gaji saya terpakai untuk bayar motor, kiriman bulanan dan beli perlengkapan untuk anak. dan memang, ada penyesalan mendalam karena saat itu tidak memanage pengeluaran dengan baik–baca:salah menentukan prioritas ketika belanja–

Sebenarnya memang 200ribu yang tersisa di rekening saya dan sudah limit itu bisa saya pakai untuk biaya makan sehari-hari, tapi ketika itu saya terlalu bergantung dengan gaji suami, yang tentu saja seharusnya saya sadar sejak dulu pengeluaran suami saya sangat jauh lebih tidak terkontrol dibandingkan pengeluaran saya😦

yah, jadilah, tulisan ini berisi curahan hati poolpoolan.. super duper dah sedihnya…

Pengalaman berharga akan memberikan banyak kesan, dan insya Allah, mulai sejak bulan ini saya berhenti dagang offline di Ende. at least, saya prefer untuk berinvestasi saja pada barang-barang berharga seperti emas. Spesial case di Ende, sistem dagang saya justru tidak membuka pintu rizqi Allah yang 99 itu😀

Jera??!! Tentu saja!

tapi tidak membuatku jera untuk berdagang online, yaaa… jualan jadi dropshipper aja deh, karena jelas tanpa modal besar, cuma koneksi internet yang udah langganan unlimited skalian nawar-nawarin barang orang dan siap ambil komisi, tidak perlu nombok uang juga..

Bismillah, semoga perjalanan ke depannya lebih bisa matang secara finansial.. aaamiiin

kasih umpan balikmu dimari yah, sob!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s