#4 “Dagang” vs “Investasi Emas”

Posted: 4 Januari 2012 in Financial Quotient

Manusiawi memang, ketika seseorang berdagang maka ia ingin barang dagangannya cepat laku, cepat dapat bayaran dan tidak pakai hutang. Anda juga berkeinginan yang sama, bukan?

Begitu juga dengan saya.

Saya memulai dagang kecil-kecilan di kota kecil di Ende ini dengan berjualan tas. Yah, tentunya saya riset pasar terlebih dulu. Saya lihat warga Ende suka dengan barang-barang yang brand nya terkenal dan mahal. Akhirnya saya coba pesan catalog tas-tas yang murah tapi unik. Pilihan saya jatuh pada tas Etnik.

Saya tunjukkan catalog kepada caln pembeli dan berikan harga, tentunya waktu itu sudah saya perkirakan harga tersebut jika dibandingkan dengan tarif kirimnya dari kota supplier ke Ende. Saya juga berjaga-jaga dengan menyiapkan supplier dari 2 kota berbeda. Dengan asumsi, jika stok di 1 supplier habis, saya bisa ambil ke supplier lainnya, tentunya saya tidak ingin mengecewakan pembeli ketika melihat catalog dan cocok dengan satu atau dua tas namun stok sedang habis. Evaluasi dari berjualan ini adalah laba kotor sampai 35%, tapi laba nett saya sekitar 13-15%, cukup lumayan untuk pemula seperti saya.

Dagang tas etnik ini hanya berjalan selama 2bulan, berikutnya sudah sepi orderan. Saya sudah menawarkan kesana kemari catalog yang ada, namun tetap tidak ada order lagi yang datang. Saya memeras otak lagi untuk terus berupaya menambah penghasilan keluarga. Selama 8 bulan tinggal di Ende saya sudah berganti-ganti usaha, mulai dari tas Etnik, kaos muslimah, pulsa, organizer jilbab sampai sekarang mencoba berjualan cloth diaper (popok kain) dan menstrual pad(pembalut kain).

Omset dalam 8 bulan ini kira-kira baru 2juta rupiah, ya tentu saja keuntungan bersih dari omset segini hanya sekitar 18% saja.  Begitu saya flashback kalkulasi dagang saya, ternyata, memang ini lebih besar daripada sekedar menyimpan emas. Saya ingat menyimpan emas Logam Mulia ukuran 3gram dari PT. Aneka Tambang sejak April 2011, kemudian saya jual kembali di bulan November 2011 karena kebutuhan suami. Ternyata kenaikan harga selama 7 bulan hanya 13% saja.  Dalam kacamata investasi saya, tentu saja ditahan satu bulan lagi, harga emas tidak terlalu berubah banyak, estimasi saya hanya akan naik 2%.

Kalau menghitung dengan persentase sepertinya kurang riil ya, coba saya sebutkan saja nominalnya sebagai perbandingan. Laba bersih dagang saya selama 8bulan kira-kira Rp 360.000,-, jika dibandingkan dengan kenaikan harga emas dari saya beli di bulan april Rp 1.327.000,- kemudian saya jual kembali di bulan November 2011 menjadi Rp 1.500.000,-, maka kenaikan harga emas 3 gram logam mulia 24 karat yang saya simpan selama 7 bulan hanya Rp 173.000,-. Nyata bukan? Perbedaannya cukup besar!

Itulah sebabnya, jika untuk sekedar disimpan dalam bentuk Logam Mulia, maka memang saya bisa bermain aman, Anda pun juga bisa! Tidak ada resiko berarti seperti dagangan yang tidak laku, karena emas Logam Mulia memiki kemudahan untuk dijual kembali. Siapa yang tidak mau beli Logam Mulia??!

Namun, memang pintu berdagang selain memiliki resiko tidak laku, juga memiliki keuntungan yang lebih menggiurkan bagi orang-orang yang menyukai tantangan seperti saya. Jadi jika pertanyaan diatas Anda ajukan pada saya, maka Anda bisa menebak jawaban saya akan memilih yang mana, bukan?

Menurut Anda sendiri bagaimana? Anda akan memilih yang mana?

kasih umpan balikmu dimari yah, sob!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s